Beliau pernah berkata, pada zaman akhir ini, alternatif pendidikan terbaik adalah pondok pesantren, dengan catatan: "memakai manageman modern".
Secara metode mengaji tetap memakai salafiyah, namun dalam hal tata-kelola menggunakan manageman modern.
Pangeran Diponegoro (wikipedia)
Ada seorang santri yang juga penganut tarekat, namanya Abdul Hamid.
Ia lahir di Dusun Tegalrejo, Kecamatan Tegalrejo, Yogyakarta.
Mondok pertama kali di Tegalsari, Jetis, Ponorogo kepada KH Hasan Besari.
Abdul Hamid ngaji kitab kuning kepada Kyai Taftazani Kertosuro.
Ngaji Tafsir Jalalain kepada KH Baidlowi Bagelen yang dikebumikan di Glodegan, Bantul, Jogjakarta.
Terakhir Abdul Hamid ngaji ilmu hikmah kepada KH Nur Muhammad Ngadiwongso, Salaman, Magelang.
Abdul Hamid wafat dan dikebumikan di Makassar, dekat Pantai Losari.
Abdul Hamid adalah Putra Sultan Hamengkubuwono ke-III dari istri Pacitan, Jawa Timur.
Abdul Hamid patungnya memakai jubah dipasang di Alun-alun kota Magelang.
Menjadi nama di Kodam Jawa Tengah.
Terkenal dengan nama: Pangeran Diponegoro.
Belanda resah menghadapi perang Diponegoro.
Dalam kurun lima tahun itu, uang kas Hindia Belanda habis, bahkan punya banyak hutang luar negeri.
Nama aslinya Abdul Hamid.
Nama populernya Diponegoro.
Adapun nama lengkapnya adalah
Sang Sayyid tersebut menyusun lagu syukur.
Dalam pelajaran Sekolah Dasar disebutkan H Muthahar.
H Mutahar Itu bukan Haji Muthahar, namun Habib Husein Muthahar, yang menciptakan lagu syukur.
Beliau adalah Pak Dhenya Habib Umar Mutohar SH Semarang.
Jadi, yang menciptakan lagu syukur yang kita semua hafal adalah seorang sayyid, cucu baginda Nabi.
Mari kita nyanyikan bersama-sama.
- Dari yakinku teguh
- Hati ikhlasku penuh
- Akan karuniamu
- Tanah air pusaka
- Indonesia merdeka
- Syukur aku sembahkan
- Kehadiratmu tuhan
Akhirnya oleh pemerintah waktu itu diangkat menjadi Dirjen Pemuda dan Olahraga.
Terakhir oleh pemerintah dipercaya menjadi Duta Besar di Vatikan, negara yang berpenduduk Katholik.
Di Vatikan, Habib Husein tidak larut dengan kondisi, malah justeru membangun masjid. Hebat !!!
Lebih hebatnya lagi, Habib Husein Muthahar menyusun lagu yang hampir se-Indonesia hafal semua.
Sampai pada kalimat hayya alas shalâh, terngiang suara adzan.
Sampai sehabis shalat berjamaah, masih juga terngiang.
Akhirnya hatinya terdorong untuk membuat lagu yang cengkoknya mirip adzan, ada “S” nya, “A” nya, “H” nya.
Kemudian pena berjalan, tertulislah: "
- 17 Agustus tahun 45
- Itulah hari kemerdekaan kita
- Hari merdeka nusa dan bangsa
- Hari lahirnya bangsa Indonesia
- Merdeka
Sekali merdeka tetap merdeka - Selama hayat masih dikandung badan
- Kita tetap setia tetap setia
- Mempertahankan indonesia
- Kita tetap setia tetap setia
- Membela negara kita"
Malahan, Bung Karno, ketika mau membaca teks proklamasi di Pegangsaan Timur Jakarta, minta didampingi putra ulama atau kyai.
Tampillah seorang dari kampung Batu Ampar, Maya Kumbung, Sumatera Barat.
Siapa beliau?
H. Mohammad Hatta.
Beliau putra ulama.
Akhirnya, Bung Hatta menjadi wakil presiden pertama.
Sayang, sejarah Bung Hatta adalah putra ulama dan putra penganut tarekat tidak pernah dijelaskan di sekolah, yang diterangkan hanya Bapak Koperasi.
Mulai sekarang, mari kita terangkan sejarah dengan utuh.
Jangan sekali-kali memotong sejarah.
Jika anda memotong sejarah, suatu saat, sejarah anda akan dipotong oleh Allah SWT.
Semoga bermanfaat .
Perpusda Kebumen.

Komentar


